Parah! Ini Beliau Kekejaman Pki Yang Selama Ini Belum Diketahui Masyarakat
KEKEJAMAN PKI – Menurut Prof. Dr. Moh Noor Syam guru besar dari Universitas Negri Malang, gerakan untuk menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi Komunisme termasuk dalam bentuk separatisme.
Sehingga aturan wajib ditegakkan terhadap mereka dengan sanksi yang sebanding. Maksudnya, penegakan aturan dalam pemerintahan dan negara haus tegas untuk menjaga Pancasila sebagi ideologi Negara Indonesia.
Tragedi Kekejaman PKI

Sudah merupakan ideologi atau paham komunis yang selelu memakai kekerasan untuk mensukseskan tujuannya. Pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak bersalah yang itu merupakan larangan dari seluruh agama di dunia, justru menjadi taktik usaha orang-orang berpaham komunis di dunia termasuk juga di Indonesia. Di bawah ini klarifikasi mengenai bukti kekejaman yang sudah dilakukan oleh para komunis di Indonesia.
1. Pristiwa Tiga Daerah

Setidaknya pristiwa ini terjadi pada tanggal 8 Oktober hingga 9 November tahun 1945. Peristiwa ini terjadi dikala Indonesia sedang mengupayakan untuk mempertahankan kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sejarah mencatat, bahwa kelompok Komunis bawah tanah mulai merubah dirinya menjadi organisasi massa dan pemuda.
Salah satu contohnya, Anggota Pemuda Indonesia (API) dan juga Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI). Mereka semua mulai melaksanakan agresi pergantian pejabat dalam pemerintahan di tiga kabupaten yaitu Karisidenan Pekalongan yang meliputi Tegal, Brebes dan Pemalang.
Pada tanggal 8 Oktober 1945, AMRI Salawi yang dipimpin oleh Sakirman dan AMRI Talang dengan pimpinannya Kutil melaksanakan teror dengan cara menangkap juga membunuh pejabat pemerintahan.
Aksi serupa dilanjtkan pada tanggal 4 November 1945, Kota Tegal diserbu oleh pasukan AMRI, yang jadi target serbuan yaitu kantor Kabupaten dan Markas TKR, namun agresi ini gagal. Dengan kegagalan itu tokoh-tokoh Komunis menciptakan Gabungan Badan Perjuangan Tiga kawasan untuk merebutkan kekuasaan di Karasidenan Pekalongan.
2. Aksi Gerombolan Ce’Mamat di Banten
Tokoh Komunis yang satu ini berjulukan Ce’Mamat. Dia terpilih unuk menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI). Dengan jabatannya sebagai ketua komite Nasionalis Indonesia, Ce’Mamat merencanakan penyusunan pemerintahan model Uni Soviet. Dibentuknya Dewan Pemerintahan Rakyat Serang (DPRS) tepatnya pada tanggal 17 Oktober tahun 1945. Setelah itu merebut pemerintahan Karisidenan Banten.
Dengan memanfaatkan kekuatan laskar-laskarnya, teror pun dilancarkan. Pasukan Ca’Mamat sukses menculik dan juga membunuh Bupati Lebak yang berjulukan R. Hardiwinangun di Jembatan Sungai Cimancak, taragedi sadis itu terjadi pada tanggal 9 Desember 1945.
3. Pembunuhan Oto Iskandar Dinata
Satu lagi bukti akan kekjaman Komunis di Indonesia, Pristiwa ini dimulai pada tanggal 18 Oktober 1945, Ahmad Khairun sebagai pemimpin dari Badan Direktorat Dewan Pusat bersama dengan tokoh-tokoh bawah tanah komunis, merebut kekuasaan Pemerintahan Republik Indonesia di Tangerang dari tangan Bupati Agus Padmanegara.
Tidak cuma hingga disitu, dewan itu pun membentuk sebuah laskar-laskar dengan diberikan nama Ubel-ubel. Aksi teror yang disertai dengan kekerasan dan pembunuhan pun dilakukan. Puncak tragedinya pada tanggal 12 Desember 1945, Laskar hitam yang dipimpin oleh Usman di kawasan Mauk, membunuh toko nasional yang tidak mau bergabung dengan Komunis yaitu Oto Iskandar Dinata.
4. Pemberontakan PKI di Cirebon
PKI yang dipimpin oleh Mr. Soeparto dan Mr. Yoesoef menggelar konferensi Laskar Merah. Perkiraan 3000 anggota dari Laskar Merah dari Jawa Timur dan Jawa Tengah ikut hadir di Cirebon yang dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 1946. Rupanya konferensi itu cumalah kedok untuk merebut kekuasaan saja.
Karena, pada kenyataanya justru Laskar Merah melucuti TRI, menguasai gedung-gedung yang penting ibarat stasiun radio dan juga pelabuhan. Tapi, pada tanggal 14 Februari 1946, agresi sepihak yang dilakukan oleh Laskar Merah itu berhasil digagalkan lagi oleh TRI. Kota Cirebon pun berhasil direbut kembali oleh TRI.
6. Revolusi Sosial di Langkat

Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 ternyata tidak semuanya bisa diterima oleh beberapa kerajaan di Sumatra Timur. Kondisi tersebut pribadi saja dimanfaatkan oleh PKI guna melaksanakan agresi sepihak. Inilah yang terjadi pada Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura.
Pada tanggal 3 Maret 1946 terjadi sebuah revolusi sosial yang dilancarkan oleh PKI di Langkat. PKI merebut secara paksa Kekuasaan para pemerintahan kerajaan bahkan PKI tidak segan-segan untuk membunuh raja-raja dan para keluarganya.
Tidak sekedar membunuh, PKI pun menjamah semua harta benda milik kerajaan. Tepatnya pada tanggal 9 Maret 1946, PKI yang dipimpin pribadi oleh Usman Parinduri dan Marwan menyerang di Istana Sultan Langkat Darul Aman yang bertempat di Tanjung Pura.
7. Pemogokan Buruh SARBUPRI di Delanggu, Klaten

Menghabisakan bertahap wibawa pemerintah yang sah merupakan sistem pergerakan yang terus dilakukan oleh PKI.
Sekitar 1.500 pekerja pabrik karung goni dari jumlah 7 perusahaan perkebunan yang dimiliki pemerintahan di Delanggu, Klaten melaksanakan mogok kerja pda tanggal 23 Juni 1948, mereka yang ikut gabung dalam Serikat Beruh Perkebunan Republik Indonesia (SARBUPRI) organisasi buruh yang dibuat oleh PKI, menuntut untuk kenaikan honor atau upah.
Tuntutan yang sangat didak logis, mengigat Negara Indonesia gres saja berdiri. Sementar Belanda masih saja terus menerus merongrong akan Kemerdekaan Reponlik Indonesia dengan kekuatan senjatanya maupun diplomasi internasional yang Belanda lakukan. Akhirnya agresi ini berakhir pada tanggal 18 Juli 1948 sehabis seluruh paratai plitik mengeluarkan argumennya dalam menyetujui Program Nasional.
8. Kekacauan Surakarta
Sejak awal kemerdekaan, sepertinya PKI mengang berniatan mau merebut kekuasaan terhadap pemerintahan yang sudah sah. PKI melaksanakan beberapa agresi mencerai-beraikan di wilayah Surakatrta, Jawa Tengah. Di ketika memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-3 yang diramaikan dengan pasar malam yang berada di Sriwedari, tiba-tib ruang ekspo jawatan pertambangan dibakar oleh PKI.
Peristiwa yang terjadi di tanggal 19 Agustus 1948 ini kemudian terbongkar, sebagai kedok atau kamuflase dari sebuah planning makar yang dibuat oleh PKI dalam pemberontakan di Madiun pada tanggal 18 September 1948. Aksi pembakaran yang dilakukan oleh PKI di Sriwedari itu sebagai pemanasan atau pemula untuk pembantaian masyarakat Madiun.
9. Pemberontakan PKI di Madiun

Inilah sisi penghianatan PKI kepada kedaulatan Republik Indonesia yang mana pada ketika itu gres saja merdeka dari penjajahan. Pemberontakan yang dilakukan pada tanggal 18 September 1948 hingga dengan ketika ini terus berusaha ditutup-tutupi oleh orang-orang PKI.
Padahal, fakta sejarah telah membuktikan, ditengah upaya Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan, justru PKI membangkang dan berkhianat terhadap usaha yang sudah dilakukan oleh para pejuang negri ini.
Dengan alasan kecewa akan perjanjian Renville, Amir Syarifuddin yang posisinya tersingkir dari pemerintahan Presiden Soekarno, kemudian beliau mendirikan organisasi kemasyarakatan yang dinamakan Front Demokrasi Rakyat (FDR). Seperti sudah diketahui, Kabinet Amir Syarifuddin setelahnya digantikan oleh Kabinet Hatta yang memang anti akan komunis. FDR ini beranggotakan PESINDO, Partai Sosialis, Partai Buruh, SOBSI dan juga PKI.
Di Madiun para PKI dengan kejam dan sadisnya membantai ulama dan Kiyai yang anti dengan komunis. Dengan tujuannya untuk memproklamirkan Soviet Republik Indonesia, Madiun sempat dikuasai oleh PKI.
Djokosudjono dan Sumarsono sebagai pemimpin PKI Madiun pada tanggal 18 September 1948, PKI memproklamasikan Soviet Republik Indonesia. Sehari kemudian atau tepatnya pada tanggal 19 September 1948, pemerintahan gres di bentuk oleh Muso yaitu pemerintahan Front Nasional.
Sejak kedatangannya dari Moskow, Muso memang sukses untuk mensugesti anggota-anggota Tentara Nasional Indonesia supaya bergabung dengannya. Bersamaan dengan itu, dengan liciknya Muso juga mengadu domba antar kesatuan pada TNI.
Atas pemberontakan yang dilakukan oleh PKI tersebut, kemudian Presiden Soekarno pada tanggal 19 September 1948 mengeluarkan maklumat dengan menyatakan:
“Kemarin pagi PKI Muso mengadakan coup, mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun, dan disana mendirikan satu pemerintahan Soviet, di bawah kepemimpinan Muso. Bagimu ada dua pilihan, ikut Muso dengan Partai Komunisnya yang akan membawa kebangkrutan impian Indonesia untuk merdeka, atau ikut kepemimpinan Soekarno-Hatta, yang dengan seijin Allah SWT akan memimpin Negri Republik Indonesia kita, dengan Indonesia yang merdeka dan tidak dijajah negara manapun juga”.
Setelah itu, Sri Hamengku Buwono ke-IX menyerukan: “secepat mungkin kaum pemberontak harus dihancurkan.” bukan hanya itu, KH Maskur sebagai mentri Agama dan juga tokoh Partai Masyumi menyatakan. “Perbuatan kekuasaan yang dilakukan oleh Muso di Madiun merupakan perbuatan yang bertentengan dengan agama dan juga perbuatan yang mungkin cuma dijadikan Republik oleh musuh.
Pemberontakan PKI di Madiun ini berhasil diruntuhkan. Madiun pun jadinya berhasil direbut kembali. Pada tanggal 30 Oktober, Muso berhasil ditembak mati tepatnya jam 11:00 di Semanding timur Ponorogo. Kemudian Maruto Darusman, Djokosjono dan gerombolannya ditangkap. Dan Amir Syarifuddin juga Suripno berhasil ditangkap kemudian dieksekusi mati.
Sangat masuk akal apabila gembong-gembong PKI jadinya dieksekusi mati. Selain pada ketika diminta untuk mengalah mereka malah melawan, mereka juga telah melaksanakan penyiksaan dan pembunuhan dengan kejam terhadap masyarakat.
Sebagai pola kekejaman PKI yang dilakukan di desa Soco, Kec. Bendo, Magetan PKI menggelandang KH. Soelaiman Zuhdi Affandi secara keji dan sebelumnya PKI juga membunuh puluhan orang tawanan dengan cara keji di Pabrik Gula Gorang Gareng.
Bukan hanya itu, PKI juga membantai ratusan orang tawanan lainnya, bahkan KH. Soelaiman Zuhdi Affandi dikubur hidup-hidup di dalam sumur pembantaian Desa Soco pada ketika pak kiyai sedang mengambil wudhu. Pada sumur itu ditemukan 108 kerangka mayat. Kini korban kekejian PKI tersebut dikuburkan di taman makam pendekar Madiun.
Seperti itulah kalau PKI menginginkan kekuasaan. Karena akan keyakinannya yang tidak mengenal tuhan, maka pembantaian, mengubur insan dengan cara hidup-hidup dianggap sebagai cara yang halal.
Tapi, dengan aneka macam macam kelicikannya, kemudian PKI menyampaikan bahwa pemberontakan yang terjadi di Madiun merupakan provokasi Hatta. Sungguh hal ibarat ini memutar balikkan fakta terhadap bencana berdarah yang mereka lakukan.
Permasalahan itu kemudian dimaafkan oleh Presiden Soekarno atas tidakan makar dan sparatis yang sudah dilakukan oleh orang-orang PKI. Sehingga pada masa pemilu yang pertama pada tahun 1955, PKI berhasil muncul menduduki sebagai kekuasaan peolitik dengan nomor 4 bersama PNI, Masyumi dan Nahdatul Ulama (NU)
10. Aksi Berdarah di Blora

Pada tnaggal 18 September 1948 pasukan PKI menyerbu Markas Kepolisian Distrik Ngawen, di Kabupaten Blora. PKI menahan sedikitnya 20 orang anggota polisi. Namun, ada 7 anggota polisi yang masih berumur muda dipisahkan dari rekannya yang lain.
Setelah turun perintah dari Komando Pasukan PKI Blora, pada tanggal 20 September 1948, mereka para polisi yang ditawan dibantai. Sedangkan ke-7 polisi muda itu dieksekusi dengan cara yang keji. Ditelanjangi dan kemudian leher mereka dijepit memakai bambu. Dalam kondisi terluka parah, tujuh polisi itu dibuang ke dalam kakus atau jamban (WC) dengan kondisinya yang masih hidup dan sehabis itu ditembak mati.
11. Pembantaian di Dungus

Stelah Madiun kembali direbut oleh TNI. Kemudian pada tanggal 30 Sepetember 1948 PKI melarikan diri ke Desa Kresek, Kec. Wungu Kab. Dungus. Sebenarnya kawasan tersebut memang disiapkan sebagai basis PKI untuk bertahan. Dengan kondisi PKI yang sudah terdesak, jadinya mapir semua tawanannya dibunuh denga cara yang keji.
Para korban ditemukan dengan keadaan kepala terpenggal disertai juga dengan luka tembak. Diantara para korban itu ada anggota TNI, Polisi, pejabat pemerintahan, tokoh masyarakat setempat dan juga para ulama. Rangkaian agresi pembunuhan oleh PKI masih berlanjut.
12. Pembantaian Masal di Tirtomoyo
Tragedi berdarah ini terjadi di Wonogiri, Jawa Timur. Aksi yang dilakukan ialah dngan cara menculik para lawan politiknya. Pejabat Pemerintahan, TNI, Polisi, dan juga wedana menjadi korban pembantaian PKI.
Di sebuah ruangan bekas laboratorium juga gudang dinamit yang berada di Tritomoyo, PKI menyekap kurang lebih 212 orang yang terdiri dari para pejabat dan juga masyarakat yang melawan partai berpaham Komunis itu. Aksi pembantaian itu dilakukan sejak tanggal 4 Oktober 1948. Satu-persatu tawanan meninggal dan sisa tawanan yang masih hidup pada jadinya dibanatai bersamaan dengan keji.
13. Aksi PKI di Tanjung Priok.
Setelah pemberontakan PKI di madiun dibubarkan, tidak begitu saja keberadaan PKI berakhir di Indonesia. PKI masih tetap ada dan tumbuh menyelusup diseluruh plosok Negri. Wajar saja apabila pemerintah tidak bisa membasmi habis PKI hingga ke akarnya. Ini disebabkan pemerintah RI dan para Tentara Nasional Indonesia juga sedang berhadap pribadi dengan para kolonial Belanda yang masih ingin berkuasa di Republik Indonesia.
Terbukti agresi kekearasan oleh PKI masih terus dilakukan. Pada tenggal 6 Agustus 1951 malam, dengan kekuatan puluhan orang memakai senjata tajam dan juga senjata api gerombolan Eteh (PKI) melaksanakan agresi di Tanjung Priok.
Mereka menyerbu Asrama Mobile Brigde Polisi dengan bertujuan untuk merebut senjata. Awalnya, seorang anggota dari grombolan Eteh seperti mau menjenguk rakannya di maarkas. Namun, dengan tiba-tiba anggota lain menyerang pos jaga asrama. Dalam agresi itu gerombolan Eteh mampuh merampas 1 senjata bren, 7 karaben, dan juga 2 pistol.
14. Aksi Barisan Tani Indonesia (BTI) di Tanjung Morawai
Tindakan brutal dilakukan oleh BTI dengan cara memprovokasi para petani di perkebunan tembakau di desa perdamaian Tanjung Morawai tanggal 16 Maret 1953. BTI merupakan salah satu underbouw PKI yang memang menimbulkan petani sebagai pendukung kekuatan masaanya.
Pada ketika itu, pemerintahan RI Karisedenan Sumatra Timur merencanakan untuk menciptakan sawah percontohan, namun menerima saingan oleh para penggarap liar. Dengan kawalan pasukan polisi, lahan perkebunan itu terpaksa dibuldozer. Menentang dengan planning tersebut BTI menggerakkan massa untuk melaksanakan sebuah perlawanan kepada pegawanegeri pemerintahan dan kepolisian.
15. Serangan Terhadap Pelajar Islam Indonesia di Kanigoro
PKI melalui Pemuda Rakyat (PR) dan Barisan Tani Indonesia (BTI) memang benar-benar tidak beradap. Training Pelajar Islam Indonesia di Kec. Kras, Kediri pada tanggal 13 Januari 1965 diserang oleh PR dan juga BTI. Para komunis ini tidak sekedar menyiksa, melainkan melaksanakan pelecahan seksual pada pelajar Islam perempuan.
Tidak cuma sekedar itu, para PKI juga menginjak-injak al-qur’an. PKI memang tidak mengenal tuhan. Mereka pun memiliki pertunjukan Ludruk dengan tema “Matinya Gusti Allah”.
16. Tragedi Bandar Betis, Pematang Siantar
Sejarah ini menyampaikan keberutalan PKI. Pada tanggal 14 Mei 1965 melaksanakan agresi sepihak yakni dengan menguasai tanah-tanah milik negara dengan cara tidak sah. PR, BTI dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) melaksanakan penanaman dengan liar di wilayah lahan milik Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Karet IX Bandar Betis.
Sekitar 200 massa ikut serta dalam agresi tersebut. Pelda Sudjono yang sedang ditugaskan di perkebunan secara kebetulan menyaksikan sikap anggota PKI tersebut. Sudjono pun memberi peringatan semoga agresi dihentikan. Anggota PKI bukannya pergi, justru berbalik menyerang dan menyiksa Sudjono. Akibatnya Sudjono tewas dengan kondisi yang amat menyedihkan.
Kini salah seorang putra pembunuh Sudjono berjulukan Muchtar Pakpahan aktif di organisasi buruh SBSI dan kemudian mendirikan Partai Buruh dan mengikuti Pemilu 2009.
17. Pemberontakan PKI 30 September 1965

Sejarah berdarah kembali ditorehkan oleh PKI di Indonesia. Dengan menamakan diri Gerakan 30 September 1965, mereka menghabisi tujuh orang Letjen Tentara Nasional Indonesia A. Yani, Mayjen Tentara Nasional Indonesia Soeprapto, Mayjen Tentara Nasional Indonesia M.T. Hardjono, Mayjen Tentara Nasional Indonesia S. Parman, Brigjen Tentara Nasional Indonesia D.I. Panjaitan, Brigjen Tentara Nasional Indonesia Soetodjo Siswomihardjo, dan Letnan Satu Pierre Andries Tendean.
Jenderal A.H. Nasution yang sudah masuk dalam daftar pembantaian ternyata bisa meloloskan diri. Hanya Ade Irma Nasution menjadi korban agresi keji pasukan PKI. Menjadi fakta sejarah, para korban keganasan PKI tersebut dilemparkan ke dalam sumur di Lubang Buaya. Sementara Mayjen Soeharto sebagai Pangkstrad tidak diperhitungkan oleh PKI, sehingga tidak ikut dihabisi.
Instruksi Letkol Untung (Komandan Gerakan 30 September 1965/PKI), pembantaian yang diawali dengan penculikan dilakukan oleh tiga kelompok pasukan yang diberi nama Pasukan Pasopati (dipimpin Letnan Satu Dul Arief), Pringgondani (dipimpin Mayor Udara Sujono) dan Bima Sakti (dipimpin Kapten Suradi). ABRI/TNI memang menjadi target utama penyusupan PKI.
Melalui Biro Khusus Central, PKI mensugesti anggota Tentara Nasional Indonesia semoga berpihak kepada mereka. Biro Khusus ini di bawah kendali pribadi DN Aidit. Oleh PKI, para anggota ABRI yang berhasil dijaring disebut sebagai “perwira-perwira yang berpikiran maju.” Mereka yang tercatat sebagai pendukung PKI antara lain : Mayjen Tentara Nasional Indonesia Pranoto Reksosamudro, Brigjen Tentara Nasional Indonesia Soepardjo, Kolonel Inf. A Latief, Letkol Untung, Mayor KKO Pramuko Sudarmo, Letkol Laut Ranu Sunardi, Komodor Laut Soenardi, Letkol Udara Heru Atmodjo, Mayor Udara Sujono, Men/Pangau Laksdya Udara Omar Dhani, Brigjen Pol. Soetarto, Kombes Polisi Imam Supoyo, Ajun Kombes Polisi Anwas Tanuamidjaja, dan lain-lain
Pembantaian terhadap petinggi militer yang oleh PKI dimaksudkan untuk merebut kekuasaan dari Presiden Soekarno yang dikabarkan tengah menderita sakit. Namun, gerakan ini mengalami kegagalan total, lantaran tidak menerima pemberian dari rakyat.
Dalam buku Soekarno File (karya Antonie Dake) dan Kudeta 1 Oktober 1965 Sebuah Studi wacana Konspirasi (karya Victor M Fic) menyebutkan adanya dorongan dari Mao Tse Tung (Ketua Partai Komunis Cina) yang bertemu dengan DN Aidit tanggal 5 Agustus 1965, semoga dilakukan pembunuhan terhadap Pimpinan Tentara Nasional Indonesia AD, lantaran Mao khawatir apabila Presiden Soekarno meninggal, maka kekuasaan akan beralih kepada Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat yang kontra terhadap PKI.
Bahkan, kedua buku tersebut menyebutkan keterlibatan Presiden Soekarno dalam pemberontakan G 30 S PKI. Sebelum G 30 S 65/PKI meletus, agresi teror dan kekerasan sudah mewarnai politik di Indonesia. PKI secara pribadi dan organisasi-organisasi pendukungnya merasa di atas angin, sehingga mengebiri hak-hak hidup organisasi massa lain.
PKI bahkan mengusulkan kepada Presiden Soekarno semoga HMI dibubarkan. PKI juga mengusulkan dibentuknya angkatan ke-5—yakni mempersenjatai Barisan Tani Nelayan dan Pemuda Rakyat dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia.
Situasi politik memang semakin memanas. Di depan apel kesiagaan Dwikora pada tanggal 2 April 1965, DN Aidit mengatakan, “Manipol harus dibela dengan senjata, Manipol tidak bisa dibela hanya dengan tangan kosong. Oleh lantaran itu, latihan militer penting bagi orang-orang revolusioner manipolis dengan tujuan membela Manipol dengan senjata.”
Pada ketika HUT PKI-45 tanggal 23 Mei 1965 di Stadion Utama Senayan, DN Aidit menyerukan massa PKI meningkatkan ofensif revolusioner hingga ke puncak. Seruan ini dirangkai pula dengan undangan pada tanggal 9 September 1965, “kita berjuang untuk sesuatu yang akan lahir.
Kita kaum revolusioner yaitu bagaikan bidan daripada bayi masyarakat gres itu. Sang bayi lahir, dan kita kaum revolusioner menjaga supaya lahirnya baik dan sang bayi cepat besar.”Seruan-seruan DN Aidit tentu saja menjadi pemompa bagi kader-kader PKI di banyak kawasan untuk melaksanakan agresi sepihak.
Komentar
Posting Komentar