Jalan-Jalan Bersama Adik Dan Sepupu

Bersama adik dan sepupu ketika jalan menelusuri indahnya kota jakarta, menyebabkan kenangan indah yang tak terlupakan.


Ramadhan tiba dan sebentar lagi mau Lebaran. Hal yang paling ditunggu-tunggu oleh anak-anak, akan tetapi merepotkan bagi orang renta yaitu disaat final Ramadhan. Mengapa? Karena di waktu itu belum dewasa akan menyambut kedatangan baju gres untuk digunakan nanti pada hari raya.


Bersama adik dan sepupu ketika jalan menelusuri indahnya kota jakarta Jalan-jalan Bersama Adik dan Sepupu
funky.com.my

Tapi tidak untuk orang tua, pasalnya disetiap final Ramadhan, orang renta harus lebih ekstra mencari uang untuk persiapan sandang pangan menyambut hari raya.


Begitu juga dengan kami bertiga, pertengahan Ramadhan, adik dan sepupu mulai membicarakan rencananya mau jalan ke Jakarta untuk beli baju Idulfitri dan jalan-jalan pastinya.


Waktu itu posisi saya sedang berada di Pondok Pesantren Al-Amanah Cibubur Jakarta Timur. Lantas adik pun menghubungi saya untuk membicarakan planning mereka berdua wacana kedatangannya ke Jakarta. Saat itu juga saya sudah dapat pulang dari Pondok, alasannya 15 Ramadhan ialah final kegiatan pondok.


Tapi saya tetapkan untuk tidak pulang eksklusif ke rumah alasannya ada planning kedatangan mereka berdua. Adik saya berjulukan Sukanta umurnya gres beranjak 18 tahun dan agus Budi Yani nama sepupu saya ia berusia 17 tahun. Rencana kami pun dirancang via telpon dan SMS.


Isi pembicaraan kami untuk kegiatan ini kurang lebih mengenai waktu pemberangkatan dari kampung ke Jakarta, mau beli baju dimana, di mana daerah wisata yang akan kami tuju, dan di mana kami akan berbuka puasa.


Setelah berbincang panjang, kesudahannya kami tetapkan Kanta (nama pangilan adik saya) dan Budi (panggilan sepupu saya), berangkat dari kampung ke Jakarta, bertepatan pada tanggal 24 Juli 2016. Rencana akan membeli baju di Tanah Abang, ngbuburit di Monas, berbuka puasa di Masjid Istiqlal, dan lanjut jalan malam di Kota Tua.


Pertemuan Indah Bersama Adik dan Sepupu


Bersama adik dan sepupu ketika jalan menelusuri indahnya kota jakarta Jalan-jalan Bersama Adik dan Sepupu
pesonaindonesia.tv

24 Juli 2016 Kanta dan Budi berangkat ke Jakarta ikut dengan kendaraan beroda empat anggota pekerja Pasar Ikan Muara Angke, yang kebetulan sopir kendaraan beroda empat itu orang renta Budi dan juga adik dari ibu saya, nanti akan turun di daerah kaka saya mengontrak.


Syukri Sulaiman


 


Bersama adik dan sepupu ketika jalan menelusuri indahnya kota jakarta Jalan-jalan Bersama Adik dan Sepupu
Syukri Sulaiman

Oya. Sebelumnya saya ceritakan dulu siapa abang saya. Namanya Syukri Sulaiman, ia kini berumur 25 tahun, sudah berkeluarga dan memiliki satu anak, Syifa Ainun Nazwa namanya. Uky nama panggilannya, ia kerja di Pasar Ikan Muara Angke membantu orang renta istrinya jual ikan.


Ia juga yang akan membelikan baju untuk kami adik-adiknya.


Oke lanjut kecerita awal lagi, kurang lebih jam 04.00 sore mereka tiba di Pasar Ikan Muara Angke dan eksklusif menuju ke kontrakan kakak. Sesampainya mereka ke kontrakan kakak, mereka istirahat untuk menghilangkan rasa capek diperjalanan dari kampung ke Jakarta.


Perjalanan Kereta


Di lain daerah saya pun berkemas-kemas berangkat untuk menemui mereka, berangkat dari pondok di Cibubur Jakarta Timur ke Muara Angke Jakarta Utara menggunakan Kereta listrik Commuter line tujuan Bogor – Kota.


Bersama adik dan sepupu ketika jalan menelusuri indahnya kota jakarta Jalan-jalan Bersama Adik dan Sepupu


Sehabis isya saya berangkat dari stasiun Universitas Indonesia, turun di stasiun kota dan lanjut naik Busway jurusan Kota – Pluit. Waktu yang ditempuh ketika perjalanan Cibubur – Muara Angke sekitar 2 jam.


Sekitar pukul 22.00 WIB malam saya hingga dikontrakan kakak, dan kesudahannya bertemu dua insan kampung yang ingin jalan-jalan di Jakarta. Kakak sudah pergi ke pasar ikan, alasannya emang jualannya mulai dari sore hingga pagi.


Mereka berdu sesampainya saya di tempat, seakan tidak mau menyia-nyiakan waktunya di Jakarta, eksklusif membujuk saya untuk jalan malam berwisata kuliner.


Demi menyenangkan mereka berdua, capek yang saya rasakan saya hilangkan sejenak untuk jalan malam menikmati malamnya Jakarta.  Makan Soto daging Sapi di pinggir jalan yang kami lakukan dan makan soto di malam itu, seolah pesta merayakan pertemuan kita.


Dilanjutkan dengan membeli ikan bakar untuk sahur nanti, selepas itu kita pun kembali ke kontrakan dan tidur hingga tiba waktu sahur. Jam 03.30 WIB Kakak tiba untuk melaksanankan sahur bersama kami, sesudah sahur bersama, kami ngobrol dan becanda ria sambil menunggu waktu Sholat Subuh tiba.


Salah satu poin dalam dialog itu, ternyata abang punya daerah tersendiri untuk beli baju yaitu disalah satu mall besar yang berada di Jakarta Utara. Dengan dialog itu memperlihatkan bahwa kegiatan kita ketiga untuk membeli baju lebaran di Tanah Abang tidak jadi.


Wara-wiri di Monumen Nasional (Monas)


Bersama adik dan sepupu ketika jalan menelusuri indahnya kota jakarta Jalan-jalan Bersama Adik dan Sepupu
lahiya.id

Pagi itu pun berlalu, berganti siang, kami melanjutkan planning kedua yaitu wara-wiri di di daerah wisata. Siang itu ibarat apa yang kita rencanakan dari awal kami lekas berangkat ke Monas.


Rencana kami ke Monas, menggunakan angkutan umum terus naik lagi menggunakan Busway dan di lanjutkan menggunakan kereta listrik commuter line menuju Monas.


Dari kontarakan abang ke Halte Buswai Pluit kami menggunakan angkutan umum, sehabis dari angkutan umum, lanjut menggunakan Busway Trans Jakarta jurusan Pluit – Pinang ranti, transit di Halte Jembatan Tiga, naik lagi ke busway jurusan Kota.


Sesampainya di Kota, turun dan melanjutkan perjalanan menuju Monas menggunakan kreta listrik Commuter line. Sebenernya menggunakan busway hingga Monas juga bisa, tapi kata sepupu saya “udah pakai kreta aja, agar kami mencicipi naik kereta”.


Berhubung tujuan saya itu ingin menyenangkan mereka berdua, ya sudah saya iakan keinginannya. Masuk di stasiun kota, naik kereta jurusan Kota- Bogor, terus kami turun di Stasiun Juanda.


Sesampai di Juanda waktu Sholat Ashar telah tiba, kami eksklusif bergegas menuju Masjid Istiqlal untuk melakukan Sholat Ashar, sebelum ready ke Monas.


Sholat Ashar sudah kami laksanakan. Waktunya ngabuburit ke Monas menikmati indahnya suasana Monas di sore hari. Ibarat kata pepatah “ingin rasanya memeluk gunung tapi apalah daya tangan tak sampai”, mungkin itulah yang kita rasakan disaat itu.


Pasalnya di tengah perjalanan kami menuju Istiqlal – Monas, awan di langit serasa tak bersahabat, kabut hitam mengisyaratkan akan turun hujan, menutupi indahnya cahaya langit di waktu sore, tapi walaupun begitu tetap kami melanjutkan perjalanan, dengan berharap hujan tak turun.


Sesampai di gerbang utama Monas, ternyata Rahmat Tuhan pun tak sabar untuk turun membasahi bumi-Nya. Gerimis rintik-rintik seakan menyambut kedatangan kami. Kami berteduh di tenda kecil dekat Pintu Gerbang Monas, menunggu dengan penuh harap hujan akan berhenti.


Buka Puasa di Masjid Istiqlal


Bersama adik dan sepupu ketika jalan menelusuri indahnya kota jakarta Jalan-jalan Bersama Adik dan Sepupu
siloka.com

Ternyata eh ternyata, hujan pun bertambah besar, seolah menahan kami untuk melanjutkan wara-wiri ke menara berkepala emas itu. Waktu terus berjalan dan tak terasa memperlihatkan waktu berbuka puasa semakin dekat. Dengan terpaksa kami mengurungkan niat masuk ke Monas dan kembali ke Istiqlal untuk berbuka puasa.


Hujan pun mulai reda dan hujan rintik mengiringi kepulangan kita ke Istiqlal.


Di sini insiden lucu kita alami. Di atas tenda daerah kita berteduh itu, kami mendapat sehelai karpet berukuran panjang 1 meter dengan lebar 1/2 meter, karpet itu kami jadikan epilog kepala agar tidak terkena air hujan. Dengan posisi satu berbanjar, saya berada di barisan paling depan, di tengah ada Budi dan belakang ada Kanta.


Kami mulai jalan ke Istiqlal, gerbang Monas kami lewati dan sesudah itu tidak ada lagi daerah berteduh selain karpet yang kami bawa. Sifat iseng saya pun muncul, dengan membawa lari karpet itu dan memakainya sendirian menyebabkan moment itu serasa senang.


Kita semua lari saling mengejar satu sama lain untuk mendapat sehelai karpet itu diiringi dengan hati bahagia dan tertawa terbahak-bahak, bagaikan orang abnormal di tengah jalan. Senang bercampur dengan lelah yang kami rasakan itu tetapkan kami untuk berhenti bermain-main. Dan kembali ke Istiqlal dengan pakaian sedikit basah.


Sesampai di Istiqlal, adzan Magrib berkumandang, membuktikan waktu buka puasa telah tiba, Kami bergegas membatalkan puasa dengan segelas air putih dan sebungkus nasi yang telah di sediakan panitia buka pusa Masjid Istiqla. Setelah berbuka, kami melakukan Sholat Magib berjama’ah dan menjama’ sholat Isya.


Menikmati Malamnya Kota Tua


Bersama adik dan sepupu ketika jalan menelusuri indahnya kota jakarta Jalan-jalan Bersama Adik dan Sepupu


Sholat Magrib dan Isya sudah kami tunaikan. Waktunya untuk mensukseskan kegiatan selanjutnya yaitu jalan malam di Musium Fatahilah Kota Tua. Sampai disana kami berjalan santai, menikmati malamnya Kota Tua dan duduk di tengah lapangan sambil minum kopi dan menikmati beberapa bungkus kacang.


Letih, lelah dan bahagia kami rasakan, malam semakin larut mengingatkan kita untuk segera kembali. Kami lekas kembali ke kontrakan abang untuk istirahat dan memulihkan stamina untuk menyambut esok hari.


Seperti biasa, abang tiba membangunkan kami untuk melakukan sahur bersama, sehabis sahur kami bercerita mengenai apa yang terjadi dengan kita sewaktu jalan-jalan di Monas dan Kota Tua, Canda tawa menghiasai kisah kami hingga tiba waktu Sholat Subuh.


Shopping


Bersama adik dan sepupu ketika jalan menelusuri indahnya kota jakarta Jalan-jalan Bersama Adik dan Sepupu
khazanah.republika.co.id

Sehabis Sholat Subuh, kami melanjutkan dialog tadi malam hingga kesudahannya tidur kembali. Waktu Zuhur di hari kedua telah tiba, kami berdiri dan melakukan ibadah Sholat Zuhur. Setelah Sholat Zuhur, kami dan abang bergegas berangkat ke Mall yang abang maksud, untuk beli baju lebaran.


Sesampainya di mall, kami eksklusif masuk ke dalam, memilah dan menentukan pakaian mana yang akan kami beli. Pakaian sudah selesai kami beli dan ada planning juga mau pesan jaket online, tapi kami urungkan niat itu. Adzan Magrib pun berkumandang, kami langsng berbuka puasa dengan air minum botol yang sudah abang beli.


Setelah berbuka puasa, kami eksklusif melakukan Sholat Magrib dan dilanjutkan makan malam disalah satu stain kuliner yang berada di dalam mall itu. Selesai makan, kami eksklusif kembali ke kontrakkan untuk berkemas-kemas kembali ke kampung halaman.


Cerita ini untuk mengenang petualangan kita bertiga, serta ucapan terima kasih kita untuk abang kami tercinta Syukri Sulaiman yang telah memperlihatkan waktu, tenaga, dan materil untuk kami. Kebaikanmu tak akan kami luapakan, jasamu selalu kami kenang.


Salam kasih kami untuk mu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemendikbud Tetap Melakukan Ujian Nasional

Inilah Hasil Nilai Kelulusan Un Sd/Mi Di Kaltim

Inilah Cita-Cita Bapak Ibu Guru Sd Di Hari Guru