Catatan Lengkap Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Juga Peninggalan, Daftar Raja Dan Letak Kerajaan
KERAJAAN MATARAM KUNO atau Mataram (Hindu) ialah sebutan untuk Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya, yang bertahta di Jawa Tengah penggalan selatan. Dinasti Sanjaya yang bertekstur Hindu dibangun oleh Sanjaya tahun 732.
Beberapa ketika setelahnya, Dinasti Syailendra yang bertekstur Buddha Mahayana dibangun oleh Bhanu tahun 752. Kedua dinasti ini memimpin kekuasaannya berdampingan secara damai. Nama Mataram sendiri awal kali disebut pada masa prasasti yang dicatat di masa raja Balitung.
Yang bisasanya para sejarawan menyebut terdapat tiga dinasti yang pernah menguasai Kerajaan Medang, yaitu Wangsa Sailendra dan Wangsa Sanjaya pada masa Jawa Tengah, juga Wangsa Isyana pada masa Jawa Timur. Istilah Wangsa Sanjaya diambil dari nama raja pertama Medang, yang berjulukan Sanjaya.
Dinasti ini berkeyakinan agama Hindu anutan Siwa. Menurut sebuah teori Van Naerssen, pada masa Rakai Panangkaran memerintah (pengganti Raja Sanjaya sekitar tahun 770-an), kekuasaan Medang dirampas oleh Wangsa Sailendra yang berkeyakinan Buddha Mahayana.
Saat itulah Wangsa Sailendra mulai berkuasa di Pulau Jawa, bahkan berhasil menguasai Kerajaan Sriwijaya yang berada di Pulau Sumatra. Sampai akhirnya, kisaran tahun 840-an, Rakai Pikatan (seorang keturunan Sanjaya) berhasil menikahi Pramodawardhani putri mahkota dari Wangsa Sailendra.
Berkat ijab kabul itu jadinya ia bisa menjadi Raja Medang, dan istananya dipindahkan ke Mamrati. Peristiwa tersebut diperkirakan sebagai awal Wangsa Sanjaya berdiri kembali .
Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Diperkirakan Kerajaan Mataram Kuno berada pada wilayah anutan sungai-sungai Bogowonto, Elo, Progo, dan Bengawan di Solo Jawa Tengah. Keberadaan Kerajaan Mataram Kuno sanggup diketahui dari Prasasti Canggal.
Prasasti bertuliskan angka tahun 732 Masehi ini disebutkan bahwa Kerajaan Mataram Kuno awalnya dipimpin oleh Sana. Setelah Sana wafat, dingklik kekuasaan diduduki oleh keponakannya, yaitu Sanjaya. Di masa kepemimpinan Sri Maharaja Rakai Panangkaran di Jawa Tengah berdiri juga dinasti baru, yaitu Dinasti Syailendra yang menganut Agama Budha.
Perkembangan kekuasaan Dinasti Syailengra di wilayah selatan Jawa Tengah menyingkirkan kedudukan Dinasti Sanjaya yang menganut Agama Hindu hingga di penggalan tengah Jawa Tengah. Akhirnya, guna memperkuat kekuasaannya masing-masing, kedua dinasti itu setuju untuk bergabung.
Dengan cara menikahkan antara Putri Pramodharwani dari pihak Syailendra dinikahkan dengan Rakai Pikatan dari dinasti Sanjaya.
Kerajaan Mataram Kuno dikenal dengan keahliannya dalam pembangunan candi agama Hindu dan Budha. Candi yang dipersembahkan untuk Agama Budha di antaranya ialah Candi Borobudur, yang dibentuk oleh Samaratungga dari pihak Dinasti Syailendra.
Candi Hindu yang dibangun diantaranya ada Candi Roro Jongrang yang berada di Prambanan, dan dirikan oleh Raja Pikatan. Pada masa kekuasaan Raja Rakai Wawa banyak terjadi kekacauan di wilayah-wilayah yang berada pada bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno sementara itu bahaya dari penjajah luar terus mengintainya.
Menjadi semakin buruknya keadaan sehabis sang raja meninggal akhir adanya kudeta di dalam istana. Akhirnya, Raja Wawa digantikan dengan Mpu Sindok. Mpu Sindok memindahkan sentra kekuasaannya yang awalnya di Jawa Tengah ke Jawa Timur. Di sana ia mendirikan sebuah dinasti gres yang diberi nama Isyana.
Pemimpin Kerajaan mataram kuno yang pertama dipimpin oleh Raja Sanjaya yang populer sebagai raja yang besar. Ia ialah berkeyakinan Hindu Syiwa yang taat. Setelah Sang Ratu Sanjaya yaitu Rakai Mataram meninggal dunia, kemudian dia digantikan oleh putranya yaitu Sankhara yang diberi gelar Rakai Panangkaran Dyah Sonkhara Sri Sanggramadhanjaya.
Raja Panangkaran lebih bijaksana dan progresif daripada Sanjaya dari itu Mataram Kuno lebih cepat berkembang. Daerah-daerah sekitar Mataram Kuno pribadi ditaklukkan, menyerupai Kerajaan Melayu di Semenanjung Malaya dan kerajaan Galuh di Jawa Barat.
Ketika kekuasaan berada pada Rakai Panunggalan, kerajaan Mataram Kuno mulai membangun beberapa candi yang megah menyerupai Candi Borobudur, candi Kalasan, candi Sari, candi Sewu, candi Pawon, dan candi Mendut.
Kemudian sehabis Rakai Panunggalan wafat, diganti oleh Rakai Warak. Pada masa pemerintahan Rakai Warak, ia lebih mengutamakan agama Hindu dan Buddha sehingga pada waktu itu banyak masyarakat yang mengetahui agama tersebut. Setelah Rakai Warak wafat, diganti oleh Rakai Garung.
Setelah Rakai Garung wafat, digantikan lagi oleh Rakai Pikatan. Berkat kecerdasan dan keuletan Rakai Pikatan, semangat dalam kebudayaan Hindu mampuh dihidupkan kembali.
Wilayah kekuasaannya pun bertambah luas meliputi seluruh Jawa Timur dan Jawa Tengah dan ia pun memulai membangun candi Hindu yang lebih indah dan besar yaitu candi Prambanan (Candi Lara Jonggrang) di wilayah desa Prambanan. Setelah Raja Pikatan meninggal, digantikan lagi oleh Rakai Kayuwangi.
Pada masa kepemimpinan Rakai Kayuwangi Kerajaan banyak menghadapi problem dan banyak sekali masalah yang rumit sehingga muncullah benih perpecahan di dalam keluarga kerajaan. Selain itu masa keemasan Mataram Kuno mulai runtuh serta banyak terjadi perang antar saudara
Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Kuno

Rakyat Mataram memasrahkan kehidupannya pada hasil pertanian. Hal menyerupai ini mengakibatkan kerajaan-kerajaan juga daerah lain yang saling mengimpor dan mengekspor hasil dari pertaniannya.
Usaha untuk menyebarkan dan meningkatkan hasil pertanian yang sudah dilakukan semenjak pada masa pemerintahan Raja Rakai Kayuwangi. Yang diperjual belikan pertama-tama hasil bumi, semisal beras, sirih pinang, buah-buahan, dan buah mengkudu.
Juga hasil produk buatan rumah tangga, menyerupai alat perkakas dari tembaga dan besi, pakaian, keranjang, paying, dan barang-barang anyaman, arang, gula, dan kapur sirih. Juga dengan hewan ternak menyerupai sapi, kerbau, kambing, itik, dan ayam juga telurnya di perjual belikan.
Usaha perdagangan mulai menerima perhatian juga ketika Raja Balitung bertahta. Raja memerintahkan guna menciptakan pusat-pusat perdagangan dan penduduk disekitar pinggiran anutan Sungai Bengawan Solo diperintahkan guna menjamin kelancaran arus pada kemudian lintas perdagangan pada anutan sungai tersebut.
Sebagai rasa terimakasihnya, penduduk desa di sekitar anutan sungai tersebut terbebas dari pungutan pajak. Lancarya pengangkutan perdagangan lewat sungai tersebut dengan otomatis akan menigkatkan kesejahteraan dan perekonomian rakyat Mataram Kuno.
Raja-raja Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Hindu mempunyai raja yang berjulukan Sanjaya. Raja Sanjaya memimpin kerajaan sekitar tahun 732 Masehi. Sebelum Raja Sanjaya, yang memimpin kerajaan ialah Raja Sanna.
Raja Sanjaya diberi gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Ia kemudian diganti oleh Sri Maharaja Rakai Panangkaran. Pada catatan sejarah, Raja-raja Mataram Kuno di Jawa Tengah lebih lengkapnya ialah sebagai berikut :
- Sanjaya, pendiri Kerajaan Mataram Kuno
- Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Sailendra
- Rakai Panunggalan alias Dharanindra
- Rakai Warak alias Samaragrawira
- Rakai Garung alias Samaratungga
- Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya
- Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
- Rakai Watuhumalang
- Rakai Watukura Dyah Balitung
- Mpu Daksa
- Rakai Layang Dyah Tulodong
- Rakai Sumba Dyah Wawa
- Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur
- Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya
- Makuthawangsawardhana
- Dharmawangsa Teguh, Kerajaan Mataram Kuno berakhir
Rakai Watukura Dyah Balitung ialah tokoh sajarah yang paling masyhur pada masa Kerajaan Mataram Hindu. Pada ketika Balitung bertahta, Kerajaan Mataram Hindu meraih puncak kejayaannya. Balitung sukses menaklukkan wilayah-wilayah di wilayah timur Mataram Hindu.
Pada masa kekuasaan Balitung, rakyat yang berkeyakinan Hindu-Buddha saling bertoleransi. Candi-candi banyak yang terbangun sebagai hasil dari wujud gotong-royong masyarakat yang mempunyai ragam agama.
Kehidupan Politik kerajaan Mataram Kuno

Berdasarkan Prasasti Canggal ditemukan bahwa Kerajaan Mataram Kuno awal dipimpin oleh Raja Sanna. Raja Sanna setelahnya digantikan oleh keponakannya sendiri yang berjulukan Sanjaya. Sanjaya merupakan anak Sanaha, saudara wanita dari Raja Sanna.
Hal ini terjadi dikarenakan Raja Sanna tidak mempunyai keturunan. Raja Sanjaya memimpin dengan penuh bijaksana sehingga rakyat Mataram hidup makmur, tenteram, dan aman.
Hal ini terlihat dari sebuah kalimat pada Prasasti Canggal yang menyatakan bahwa Jawa kaya akan emas dan padi. Selain terdapat dalam prasasti Canggal, nama Sanjaya juga tertulis dalam Prasasti Balitung.
Setelah Sanjaya, kepemimpinan Kerajaan Mataram Kuno dipinmpin oleh Panangkaran. Dari prasasti Balitung ditemukan bahwa Raja Panangkaran mempunyai gelar Syailendra Sri haraja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Hal tersebut menawarkan bahwa asal Rakai Panangkaran dari keluarga Sanjaya dan Syailendra.
Sepeninggal Raja Panangkaran
Sepeninggal Panangkaran, Kerajaan Mataram Kuno terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Mataram yang bernuansa Hindu dan Kerajaan Mataram yang bernuansa Buddha .
Wilayah Kerajaan Mataram yang bernuansa Hindu meliputi Jawa Tengah penggalan Utara. Kerajaan ini dipimpin oleh Dinasti Sanjaya dengan raja-raja, semisal: Panunggulan Warak, Pikatan, dan Garung. Sedangkan wilayah Kerajaan Mataram Kuno yang bernuansa Buddha meliputi Jawa Tengah penggalan Selatan.
Kerajaan ini dipimpin oleh Dinasti Syailendra dengan seorang raja antara lain Indra. Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya menggelar perkawinan politik bersama Pramodhawardani dari keluarga Syailendra pada tahun 850 M. Dengan adanya perkawinan ini, Kerajaan Mataram Kuno sanggup kembali dipersatukan.
Pada masa kepemimpinan Pikatan-Pramodawardani, wilayah Mataram luas berkembang meliputi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Rakai Pikatan juga sukses membangun Candi Plaosan. Setelah Rakai Pikatan meninggal, Pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno diambil alih oleh Balitung (898 – 910 M).
Raja Balitung
Raja Balitung ialah raja terbesar dari Kerajaan Mataram dan mempunyai gelar Sri Maharaja Rakai Wakutura Dyah Ballitung.
Pada masa kepemimpinannya banyak didirikan candi dan prasasti. Di antaranya ialah komplek Candi Prambanan. Bukan hanya itu, Raja Balitung populer sanggup mengatur dengan baik pemerintahan sehingga menjadikan rakyatnya sejahtera.
Setelah pemerintahan Balitung, pemerintahan berturut-turut dikendalikan oleh Tuladong, Daksa, dan Wawa. Raja Wawa memerintah diantara 924 – 925 M. Kemudian ia digantikan oleh mantunya yaitu Mpu Sendok. Pada masa kepemimpinan Mpu Sendok, sentra kerajaan Mataram Kuno dipindah lokasikan ke Jawa Timur.
Hal ini dikarenakan makin besarnya akan efek Kerajaan Sriwijaya yang dipimpin oleh Balaputradewa. pada masa era ke-7 hingga era ke-9 terjadi serangan pertempuran dari Sriwijaya ke Mataram. Hal ini menjadikan Mataram Kuno semakin terdesak hingga wilayah timur.
Selain itu juga, sering terjadi akan musibah yang merupakan letusan gunung Merapi. Letusan gunung ini masyarakat Mataram Kuno meyakini sebagai tanda kehancuran dunia. Maka dari itu, mereka meyakini letak Kerajaan di Jawa Tengah sudah tidak bisa atau layak dan harus dipindahkan.
Letak Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno terletak di daerah anutan sungai Progo elo, Bogowonto, dan Bengawan Solo Jawa Tengah dibagian selatan. Akan tetapi kerajaan berpindah ke jawa timur pada era ke-10.
Kerajaan Mataram Kuno merupakan salah satu kerajaan populer dan termasyur di dunia para peneliti sejarah. Hal tersebut dikarenakan banyaknya macam peninggalan yang sanggup ditemukan di sekitar kerajaan.
Tidak hanya benda-benda atau barang-barang purbakala, tapi banyak juga ditemukan peninggalan-peninggalan sejarah kerajaan yang menyatakan keberadaan lokasi Kerajaan Mataram Kuno.
Lokasi yang menjadi inti wilayahnya ialah Bhumi Mataram dengan ibukotanya ialah Medan Kamulan. berdasarkan perkiraan, tempat lokasi Kerajaan Mataram Kuno kini merupakan Yogyakarta
keruntuhan kerajaan mataram kuno

Kerajaan Mataram kuno runtuh disebabkan lantaran beberapa faktor.
- disebabkan oleh meletusnya gunung Merapi sehingga mengeluarkan lahar. Kemudian lahar letusan gunung tersebut menimbun candi-candi yang dibangun oleh kerajaan, dan menjadikan candi-candi tersebut rusak.
- runtuhnya kerajaan Mataram dikarenakan terjadinya krisis politik yang terjadi pada tahun 927-929 M.
- runtuhnya Kerajaan Mataram disebabkan oleh perpindahan letak kerajaan Mataram dikarenakan pertimbangan ekonomi. Daerah di Jawa Tengah kurang subur, sangat jarang terdapat anutan air sungai besar dan tidak juga tidak ada pelabuhan strategis. Sedangkan di Jawa Timur, dan juga di pantai selatan Bali termasuk jalur yang strategis untuk mengadakan perdagangan, dan erat dengan wilayah sumber yang menghasilkan komoditi perdagangan.
Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno banyak meninggalkan jejak sehabis keruntuhannya, dari banyak peninggalan tersebut ada yang berupa prasasti dan ada juga yang berupa candi. Berikut macam peninggalan Kerajaan Mataram Kuno:
Prasasti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno
Terdapat empat prasasti yang sanggup ditemukan pada peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Dengan ditemukannya prasasti banyak sekali bentuk dan tulisan-tulisannya menyebutkan bahwa benar akan keberadaan Kerajaan Mataram Kuno.
1. Prasasti Canggal

Prasasti Canggal dalam bentuk Candrasangkala, ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir yang berada di desa Canggal berangka tahun 732 M.
2. Prasasti Kalasan

Prasasti Kalasan ditulis dalam bahasa Sansekerta dan abjad Pranagari (India Utara), yang ditemukan di tempat desa Kalasan Yogyakarta tahun 778 M.
3. Prasasti Mantyasih

Prasasti Mantyasih yang memakai bahasa Jawa Kuno ditemukan di Mantyasih Kedu, Jateng dengan angka tahun 907 M.
Isi dari prasasti itu ialah daftar dari silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Bality ialah Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Warak, Rakai Panunggalan, Rakai Garung, Rakai Watuhumalang, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, dan Rakai Watukura Dyah Balitung. Untuk itu prasasti Mantyasih atau Kedu ini disebut juga dengan prasasti Belitung
4. Prasasti Kelurak

Prasasti Klurak ditemukan di tempat desa Prambanan dengan angka tahun 782 M tertulis dalam abjad Pranagari dan bahasa Sansekerta dalam isinya menceritakan pembangunan arca Manjusri oleh Raja Indra yang mempunyai gelar Sri Sanggramadananjaya.
14 Candi Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno
Selain banyak prasasti sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, kerajaan ini juga banyak meninggalkan candi-candi yang tersebar diberbagai daerah di Indonesaia. Berikut daftar candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno:
1. Candi Gatotkaca

Candi Gatotkaca ialah salah satu dari candi Hindu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, di daerah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Candi ini berada di sebelah barat dari Kompleks Percandian Arjuna, tepi jalan menuju arah Candi Bima, sempurna seberang Museum Dieng Kailasa. Nama Gatotkaca diberikan oleh penduduk lantaran mengambil sumber dari nama tokoh wayang yang ada di kisah Mahabarata.
2. Candi Bima

Candi Bima berada di Desa Dieng Kulon, Kec. Batur, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah, candi ini berada paling selatan di wilayah Percandian Dieng. Pintu masuk bertempat di sisi timur.
Di banding dengan candi-candi lain, candi ini cukup unik, baik di daerah Dieng maupun Indonesia pada umumnya, lantaran kesamaan atau kemiripan arsitekturnya dengan beberapa macam candi di India.
Bagian atapnya hampir sama dengan shikara dan mempunyai bentuk menyerupai mangkuk yang dibalikkan. Pada penggalan atap ditemukan ada relung dengan relief kepala yang juga disebut dengan kudu.
3. Candi Dwarawati

Bentuk Candi Dwarawati hampir sama dengan Candi Gatutkaca, yaitu berpeta dasar segi empat dengan tampak di keempat sisinya. Tubuh candi berdiri tegak di atas batur dengan tinggi sekitar 50 cm. pintu masuk dan Tangga , yang berada di sisi barat, ketika ini dalam bentuk tanpa pahatan atau polos.
4. Candi Arjuna

Candi Arjuna merupakan candi yang menyerupai dengan candi-candi di kompleks Gedong Sanga. Berdenah dasar bentuk persegi dengan luas kurang lebih ukuran 4 m2. Tubuh candi terbangun diatas batur dengan ketinggian sekitar 1 m. Di sisi barat ada tangga menuju pintu masuk ke dalam ruangan kecil pada badan candi.
Pintu candi juga dilengkapi dengan menyerupai macam bilik penampil yang menonjol keluar sekitar 1 m dari penggalan badan candi. Di atas ambang pintu terdapat hiasan dengan pahatan Kalamakara.
5. Candi Semar

Candi Semar yang mana sketsa dasarnya mempunyai bentuk persegi empat yang membujur ke arah utara dan letaknya sempurna berhadapan dengan Candi Arjuna. Candi Batur mempunyai ketinggian sekitar 50 cm, polos tanpa adanya hiasan. Tangga yang mengarah ke pintu masuk ruang pada badan candi berada di sisi timur.
Pada ambang pintu diberi bingkai berhiaskan kepala naga di pangkalnya dan contoh kertas tempel. Di atas ambang pintu ditemukan Kalamakara tanpa rahang bawah.
6. Candi Puntadewa

Ukuran Candi ini tidak terlalu besar, namun candi ini terlihat lebih tinggi. Tubuh candi terbangun di atas batur bersusun dengan ketinggian sekitar 2,5 m. Tangga ntuk menuju pintu masuk ke ruang pada badan candi dilengkapi dengan pipi candi dan terbuat bersusun dua, sama dengan batur candi.
Atap Candi Puntadewa menyerupai dengan atap dari Candi Sembadra, yaitu dengan bentuk kubus besar. Puncak atapnya juga sudah hancur, sehingga menciptakan bentuk aslinya tidak terlihat lagi.
Pada keempat sisi penggalan atap juga ada relung kecil menyerupai tempat untuk meletakan arca. Pintu dilengkapi dengan bilik penampil dan juga diberi bingkai yang berhiaskan dengan motif kertas tempel.
7. Candi Sembrada

Batur Candi Sembrada mempunyai tinggi sekitar 50 cm dengan sketsa dasar mempunyai bentuk bujur sangkar. Di pertengahan sisi timur, selatan dan utara ada penggalan yang menonjol keluar, membentuk sebuah relung semisal bilik penampil. Letak pintu masuk berada di sisi barat dan dilengkapi dengan memakai bilik penampil.
Adanya relung di sisi timur, selatan dan utara dan bilik penampil di sisi penggalan barat menciptakan bentuk dari badan candi tampil menyerupai poligon. Di halaman terletak kerikil yang ditata rapih sebagai jalan setapak untuk menuju pintu.
8. Candi Srikandi

Candi Srikandi terletak di penggalan utara Candi Arjuna. Batur candi mempunyai tinggi sekitar 50 cm dengan sketsa dasar bentuk kubus.
Terdapat tangga dengan bilik penampil di sisi penggalan timur. Pada dinding penggalan utara terdapat pahatan yang membentuk Wisnu, pada dinding penggalan timur berbentuk Syiwa dan pada dinding penggalan selatan bergambarkan Brahma. Sebagian besar dari pahatan tersebut sudah mengalami kerusakan. Atap candi sudah hancur sehingga tidak tampak lagi bentuk aslinya.
9. Candi Gedong Songo

Candi Gedong Songo merupakan nama sebuah area bangunan candi peninggalan dari budaya Hindu yang berada di desa Candi, Kec. Bandungan, Kab. Semarang, Jawa Tengah, letak tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di area candi ini ada sembilan buah candi.
Candi ini ditemukan pada tahun 1804 oleh Raffles dan merupakan peninggalan Hindu dari masa Wangsa Syailendra pada era ke-9 (tahun 927 masehi). Candi ini mempunyai persamaan dengan area Candi Dieng di Kabupaten Wonosobo.
Candi ini berada pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan bahari yang menjadikan suhu udara disini lumangyan hirau taacuh (kurang lebih 19-27 °C)
10. Candi Sari

Candi Sari ialah candi Buddha yang letaknya tidak jauh dari lokasi Candi Sambi Sari, Candi Prambanan dan Candi Kalasan, yaitu di penggalan timur bahari dari Yogyakarta, dan letaknya erat dari Bandara Adisucipto. Candi ini didirikan sekitar era ke-8 dan ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno dengan mempunyai bentuk yang sangat indah.
Pada penggalan atas candi ini ada 9 buah stupa menyerupai dengan yang nampak pada stupa Candi Borobudur, dan tersusun pada 3 deretan sejajar.
Bentuk bangunan dari candi serta gesekan relief yang terukir pada dinding candi hammpir sama dengan relief pada Candi Plaosan. Beberapa ruangan bertingkat yang dua berada pas di bawah masing-masing stupa, dan kira-kira digunakan untuk tempat bertapa bagi para keagamaan Buddha (bhiksu) dizaman dahulunya.
Candi Sari pada masa silam merupakan sebuah Vihara Buddha, dan digunakan sebagai tempat mencar ilmu dan mengajar bagi para bhiksu.
11. Candi Mendut

Candi Mendut ialah candi bermotif Buddha. Candi yang berada di Jl. Mayor Kusen Kota Mungkid, Kab. Magelang, Jawa Tengah ini, letaknya sekitar 3 kilometer dari candi Borobudur.
Candi Mendut dibangun semasa kekuasaan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertahun 824 Masehi, tercatat bahwa raja Indra telah mendirikan bangunan suci yang diberi nama wenuwana yang artinya hutan bambu.
12. Candi Sewu

Secara administratif, area Candi Sewu berada di Dukuh Bener, Ds. Bugisan, Kec. Prambanan, Kab. Klaten, Prov. Jawa Tengah. Candi Sewu merupakan candi Buddha yang didirikan pada era ke-8 yang mempunyai jarak hanya 800 m di sebelah utara dari Candi Prambanan.
Candi Sewu ialah kompleks candi Buddha paling besar kedua sehabis Candi Borobudur yang berada di Jawa Tengah. Usia Candi Sewu lebih renta daripada Candi Prambanan.
Meskipun yang gotong royong terdapat 249 candi, candi ini oleh masyarakat setempat dinamakan “Sewu” yang artinya seribu dalam bahasa Jawa. Penamaan ini atas dasar kisah legenda Loro Jonggrang.
13. Candi Pawon

Letak Candi Pawon berada di antara Candi Borobudur dan Candi Mendut, sempurna dengan jarak 1150 m dari Candi Mendut ke arah barat dan 1750 meter dari Candi Borobudur ke arah timur. Tidak sanggup diketahui secara niscaya asal-usul dari nama Candi Pawon.
Ahli epigrafi J.G. de Casparis beropini bahwa Pawon berasal dari bahasa Jawa yaitu awu yang artinya ‘abu’, Dalam bahasa Jawa kata pawon aritinya ‘dapur’, akan tetapi de Casparis mengartikannya dengan ‘perabuan’ atau tempat abu.
Penduduk sekitar juga menyebutkan Candi Pawon dengan sebutan Bajranalan. Mungkin kata ini berasal dari kata Sanskerta vajra yang artinya ‘halilintar’ dan anala yang artinya ‘api’.
14. Candi Borobudur

Candi Borobudur ialah sebuah candi peninggalan Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi ini kurang lebih 86 km di sebelah barat Surakarta, 100 km di sisi barat daya Semarang, dan 40 km di sebelah barat bahari Yogyakarta.
Candi yang berbentuk stupa ini dibangun oleh para penganut iman Buddha Mahayana kira-kira tahun 800-an Masehi pada masa kekuasaan wangsa Syailendra. Candi Borobudur ini terdiri atas enam teras dengan bentuk bujur kandang yang diatasnya ada tiga pelataran melingkar, pada penggalan dinding dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya ada 504 arca Buddha.
Stupa utama terbesar berada di tengah juga sebagai memahkota bangunan ini, dikelilingi oleh 3 barisan melingkar 72 stupa yang di dalamnya ada arca buddha.
Itulah yang bisa saya bagikan mengenai Sejarah Kerajaan Mataram Kuno, kurang lebihnya saya minta maaf dan mudah-mudahan informasi mengenai Sejarah kerajaan Mataram Kuno ini bisa bermanfaat untuk kalian semua. Terima Kasih.
Komentar
Posting Komentar