Catatan Lengkap Sejarah Kerajaan Kediri Dari Awal Bangkit Sampai Runtuhnya Kerajaan
KERAJAAN KEDIRI – Indonesia merupakan suatu negara yang mempunyai banyak kepulauan. Sehingga tidak heran bila terdapat banyak kebudayaan, adat-istiadat serta norma-norma yang berlaku di masyarakatnya. Sebelum wilayah Indonesia menjadi satu kesatuan dalam NKRI, dahulu Indonesia merupakan wilayah yang terdiri dari kerajaan-kerajaan.
Banyak banyak sekali kerajaan yang ada di Indonesia, mulai dari kerajaan yang bercorak Hindu, Budha bahkan Islam. Diantara kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia, penulis akan menjelaskan mengenai kerajaan bercorak hindu yaitu Kerajaan Kediri.
Berdasarkan sejarah kerajaan yang akan penulis sampaikan semoga sanggup bermanfaat bagi pembaca. Karena dengan berguru sejarah kita sanggup memacu hidup kita lebih baik lagi. Sebab dalam sejarah terdapat beberapa pelajaran moral yang sanggup Anda petik.
Sejarah Kerajaan Kediri

Pada zaman dahulu Raja Airlangga pada tahun 1041 atau 936 M memerintahkan membagi kerajaan menjadi dua belahan dengan tunjangan Mpu Bharada.
Mpu Bharada sangat populer dengan kesaktiannya. Atas perintah raja, Mpu Bharada membagi kerajaan menjadi dua belahan yaitu Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri). Wilayah kerajaan Jenggala dengan ibukota Kahuripan mencakup Malang, selta sungai Brantas dengan pelabuhan Rembang, Pasuruan dan Surabaya.
Sedangkan kerajaan Panjalu yang beribukota Daha daerahnya mencakup Kediri dan Madiun. Untuk Batas wilayah jenggala dan panjalu diceritakan prasasti Mahaksubya (1289 M) dalam kitab Negarakertagama (1365 M),Calon Arang (1540 M). Bahwa batas wilayah dari kedua kerajaan tersebut yaitu gunung Kawi dan sungai Brantas.
Sebenarnya tujuan dari Raja Airlangga membagi kerajaan menjadi dua belahan supaya tidak terjadi pertikaian dalam perebutan kekuasaan. Hal ini ditengarai dari kedua putra Raja Airlangga saling berebut tahta kerajaan. Putranya itu Sri Samarawijaya yang mendapat kerjaan Panjalu dan Mapanji Garasakan memperoleh kerajaan Jenggala.
Sehingga tamat bulan Nopember tepatnya pada tahun 1042, raja Airlangga membelah kerajaannya menjadi dua. Ternyata apa yang dilakukan Raja Air Langga tidak menciptakan masing-masing dari Kerajaan puas.
Justru masing-masing raja dari kerajaan Panjalu dan Jenggala menginginkan untuk menguasai seluruh wilayah kerajaan. Kisah ini digambarkan dalam prasasti-prasasti peninggalan sejarah kerajaan yang ditemukan.
Terjadinya perang saudara dari kedua kerajaan ini semula dimenangkan oleh Jenggala. Namun sesudah terjadi perkembangan, peperangan tersebut alhasil dimenangkan oleh Panjalu. Sehingga akhir dari kekalahan Jenggala, Panjalu sanggup menguasai seluruh wilayah kerajaan.
Kemenangan Panjalu atas Jenggala diabadikan dalam prasasti Malenga. Sehingga dari kisah tersebut makan berdirilah kerajaan Kediri. Sebagai bukti sejarah kerajaan ini, terdapat beberapa peninggalan ibarat prasasti, kitab-kitab dan candi.
Sedangkan kisah kemenangan Panjalu atas Jenggala diceritakan dalam kitab Kakawin Bharathayudha karangan Empu Sedah dan Empu Panuluh. Kerajaan Kediri pernah mengalami masa puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Jayabaya.
Namun Kerajaan Kediri mengalami keruntuhan pada masa pemerintahan Kertajaya. Awal penyebabnya terjadi kehancuran itu akhir perilaku Kertajaya yang bertentangan dengan kaum Brahmana. Raja Kertajaya menyuruh kaum Brahmana untuk menyembahnya sebagai dewa.
Aturan dari Raja Kertawijaya ini dianggap kaum Brahmana sebagai pelanggaran agama. Sehingga kaum Brahmana meminta tunjangan Ken Arok untuk melepaskan mereka dari kediri. Oleh sebab itu Ken Arok yang pada ketika itu merupakan pimpinan dari Kadipaten Tumapel tetapkan untuk menyerang kerajaan yang dipimpin oleh Kertajaya.
Dari peperangan antara Kertajaya dengan Ken Arok, alhasil dimenangkan oleh Ken Arok. Sehingga wilayah kerajaan Kediri menjadi wilayah bawahan Tumapel yang berganti nama menjadi Kerajaan Singasari.
Pada masa pemerintahan Singosari, Ken Arok mengangkat Jayasabha yang merupakan putra Kertajaya sebagai bupati Kediri. Kemudian digantikan putranya Sastrajaya di tahun 1158 kemudian Jayakatwang. Pada pemerintahan Kertanegara, Jayakatwang berusaha memberontak kerajaan Singosari untuk membangun kerajaan Kediri lagi.
Setelah Raja Kertanegara terbunuh, Jayakatwang mulai membangun lagi kerajaan Kediri. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena Raden Wijaya yang merupakan menantu Kertanegara berhasil mengalahkan Jayakatwang. Dengan demikian berakhirlah kerajaan Kediri untuk selamanya.
Berdirinya Kerajaan Kediri

Berdirinya kerajaan Kediri diketahui pada awal tahun 2007 dengan ditemukannya situs Tondowongso. Situs ini diyakini sebagai bukit sejarah pada peninggalan kerajaan Kediri. Dengan keberadaan situs tondowongso dibutuhkan sanggup menawarkan donasi dalam mengenal sejarah berdirinya kerajaan Kediri.
Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan Hindu yang berada di wilayah Jawa Timur yang berdiri pada tahun 1042 hingga tahun 1222.
Ibukota kerajaan Kediri yaitu daha yang pada ketika ini daha merupakan kota yang berada disekitar Kediri. Terdapat beberapa arca kuno yang menjadi bukti sejarah adanya kerajaan Kediri. Arca tersebut berupa patung Dewa Syiwa Catur Muka atau patung yang mempunyai empat muka. Arca ini ditemukan di desa Gayam.
Awal berdirinya kerajaan Kediri terjadi ketika Raja Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua belahan dengan tunjangan Mpu Barada. Pembagian ini dikarenakan kedua anaknya yang menginginkan kenaikan tahta. Pembagiannya untuk Sri Samarawijaya mendapat kerajaan Panjalu dan Mapanji Garasakan memperoleh kerajaan Jenggala.
Namun ternyata keduanya saling menginginkan seluruh wilayah kerajaan. Akhirnya terjadilah peperangan antara kerajaan Panjalu dengan kerajaan Jenggala. Kemudian dimenangkan oleh kerajaan panjalu sehingga kemudian diberi nama Kerajaan Kediri.
Silsilah Kerajaan Kediri

Terdapat silsilah raja dari Kerajaan Kediri yang perlu Anda ketahui silsilah tersebut yaitu sebagai berikut ini:
1. Shri Jayawarsa Digjaya Shastra Prabu Atau Raja Sri Jayawarsa
Berdasarkan prasasti Sirah Keting tahun 1104 M, diceritakan ihwal pemerintahan Raja Sri Jayawarsa. Diceritakan dalam prasasti sebagai tanda terimakasih Raja kepada rakyatnya yang sangat berharga, sang Raja menawarkan hadiah. Hal demikian sebagai bukti bahwa Raja Jayawarsa mempunyai perhatian yang lebih pada kesejahteraan rakyatnya.
2. Raja Kameswara (1117 M)
Pada masa pemerintahan Raja Kameswara terdapat banyak peninggalan prasasti yang ditemukan di wilayah Kertosono dan Tulungagung. Prasasti-prasasti yang ditemukan itu lebih menceritakan problem yang berkaitan dengan agama. Sehingga dari prasasti itu sanggup dilihat bagaimana keadaan pada masa pemerintahannya.
3. Raja Jayabaya (1135-1157 M)
Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya. Pada masa pemerintahannya wilayah Kediri semakin luas yang mulanya hanya sebatas wilayah Jawa Tengah kemudian meluas hampir seluruh Jawa. Selain wilayah kerajaan yang semakin besar, karya seni sastra juga sangat populer pada ketika itu.
Maka tidak heran bila banyak raja-raja yang segan kepadanya. Pada masa pemerintahan Raja Jayabaya banyak bermunculan tokoh cendekiawan terkenal. Tokoh itu yaitu Empu Panuluh, Sedah, Darmaja, Managuna dan Triguna. Dengan tokoh Raja yang sangat mumpuni didukung oleh cendekiawan yang mendalami ilmu maka lahirlah kitab-kitab aturan dan kenegaraan.
Kitab-kitab itu terhimpun dalam kakawin Baratayuda, Hariwangsa dan Gathutkacasraya. Peninggalan dari kitab-kitab ini menjadi warisan luhur yang mempunyai mutu tinggi. Selain itu pada masa pemerintahan Prabu Joyoboyo, perekonomian rakyat begitu makmur berkat taktik kepemimpinannya yang mengagumkan.
Disamping menjadi Raja yang sukses dalam pemerintahannya, ia juga mendapat sebutan andal ramal. Semua ramalannya dikumpulkan dalam kitab Jongko Joyoboyo.
4. Raja Sarwaswera
Raja Sarwaswera merupakan salah satu raja kediri yang taat pada agama dan budaya. Ketaatan Raja Sarwaswera diceritakan pada prasasti Padelegan II tahun 1159 dan prasasti Kahyunan tahun 1161.
5. Raja Sri Aryeswara
Masih belum diketahui secara niscaya mengenai kenaikan tahta Sri Aryeswara begitupula berakhirnya pemerintahannya. Namun terdapat peninggalan sejarahnya yaitu prasasti Angin dengan bertuliskan 23 Maret 1171. Sehingga raja Aryeswara memerintah sekitar tahun 1171.
6. Raja Sri Ganda
Berdasarkan prasasti jaring sanggup diketahui terdapat masa pemerintahan Raja Gandra pada tahun 1181 M. Dalam prasasti jaring ditemukan penggunaan nama-nama binatang yang merupakan simbol dari pangkat yang dimiliki seseorang.
7. Raja Kameswara
Berdasarkan ditemukannya prasasti Ceker masa pemerintahan Raja Kameswara mulai dari tahun 1182- 1185 M. Pada masanya seni sastra mengalami perkembangan yang cukup pesat ibarat adanya Empu Dharmaja yang mengarang Smaradhana. Selain itu juga terdapat kisah yang populer yaitu kisah Panji.
8. Raja Kertajaya
Raja Kertajaya yang mendapat sebutan Dandang Gendis merupakan raja terakhir dari kerajaan Kediri .Hal ini didasarkan pada inovasi prasasti Kamulan dan Galunggung (1194), palah (1197) serta prasasti Wates Kulon (1205). Pada masa pemerintahannya kerajaan Kediri mengalami masa kemunduran. Karena Raja Kertajaya berselisih dengan kaum Brahmana.
Raja Kertajaya menyuruh kaum Brahmana untuk menganggap Raja sebagai dewa. Tentunya bagi kaum Brahmana hal ini merupakan suatu penyimpangan agama. Melihat kondisi yang tidak aman, alhasil kaum brahmana meminta tunjangan Ken Arok yang pada ketika itu memimpin Tumapel.
Sehingga timbullah peperangan antara Raja Kertajaya dengan Ken Arok. Peperangan tersebut kemudian dimenangkan oleh Ken Arok, sehingga kerajaan Kediri alhasil berada di bawah kekuasaannya.
Masa Kejayaan Kerajaan Kediri

Masa kajayaan kerajaan Kediri terjadi ketika zaman pemerintahan Raja Jayabaya. Pada masa pemerintahan Raja Jayabaya wilayah kekuasaannya semakin luas. Berawal dari wilayah Jawa Tengah kemudian melebar luas hingga hampir menguasai seluruh wilayah Jawa.
Selain wilayah Jawa imbas dari kerajaan ini hingga mencakup wilayah Sumatera yang pada ketika itu dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya. Terdapat pula catatan dai Chou Ku-fei di tahun 1178. Catatan itu menceritakan bahwa ketika dipimpin oleh Raja Sri Jayabaya kerajaan Kediri merupakan negeri yang paling kaya.
Wilayah kekuasaan Kediri semakin besar dan luas serta banyak seni karya sastra. Dengan demikian kerajaan ini menjadi kerajaan yang cukup disegani pada ketika itu.
Bukti sejarah kejayaan pada pemerintahan Jayabaya dengan ditemukannya prasasti Talang, Hantang, dan Jepun serta Kakawin Bharatayudha. Pada masa pemerintahan Jayabaya seni sastra menjadi sangat terkenal. Dalam catatan sejarah terdapat ramalan yang sangat populer yaitu Ramalan Jangka Jayabaya.
Ramalan ini berupa hal yang akan terjadi pada wilayah Nusantara yang akan datang. Dalam ramalan ini dijelaskan bahwa wilayah nusantara yang akan tiba akan terjadi peristiwa yang cukup besar. Bencana itu ibarat gunung-gunung meletus, bahari dan sungai meluap serta terjadi banyak sekali guncangan bumi (gempa).
Pada masa itu orang-orang licik akan menjadi penguasa sedangkan orang yang baik akan tertindas. Sungguh suatu zaman yang penuh kesewenang-wenangan.
Namun dalam ramalan Jayabaya juga dijelaskan bahwa sesudah nusantara mengalami zaman penuh kesulitan akan terjadi juga zaman kemegahan dan kemuliaan. Pada ketika itu merupakan zaman keemasan dengan datangnya pahlawan piningit. Bahkan hingga ketika ini ramalan Jangka Jayabaya masih diyakini.
Bukti Sejarah Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan yang masyarakatnya menganut agama Hindu. Kerajaan ini terletak di wilayah Jawa Timur. Terdapat beberapa bukti sejarah dari kerajaan Kediri yang hingga ketika ini masih sanggup kita nikmati dan pelajari dari sejarah dulu yaitu sebagai berikut:
1. Candi Penataran
Candi Penataran merupakan salah satu peninggalan kerajaan yang terletak di sekitar Gunung Kelud wilayah Blitar. Hingga ketika ini keberadaan candi penataran masih ada dan dijaga oleh pemerintah sebagai bukti sejarah. Sehingga tidak heran bila banyak wisatawan yang mengunjungi candi ini untuk melihat peninggalan kerajaan.
2. Candi Tondowongso
Selain candi penataran terdapat candi gres yang dilihat dari bentuk dan arsiktekturnya mengambarkan candi tondowongso merupakan candi peninggalan kerajaan Kediri. Candi ini ditemukan di Tondowongso, Kediri, Jawa Timur dengan situs berukuran 30 hektar. Sehingga termasuk dalam kategori peninggalan paling besar di era tahun 30an.
3. Prasasti Kamulan
Prasasti Kamulan yang terletak di wilayah Trenggalek, Jawa Timur ini dulunya dibentuk pada masa pemerintahan raja Kertajaya. Kondisi prasasti kamulan hingga ketika ini masih dalam keadaan yang baik dan indah. Selain itu juga terdapat banyak wisatawan yang berkunjung untuk melihat prasasti kamulan.
4. Prasasti Jaring
Dalam Prasasti Jaring diceritakan kisah penduduk desa Jaring yang meminta permohonan lewat senopati Sarwajala mengenai anugerah raja Kediri yang belum terwujud.
5. Archa Budha Vajrasatva
Saat ini keberadaan archa budha vajrasatva di abadikan pada museum fur indische kurs, Berlin dahlen, Jerman. Archa ini mempunyai bentuk dan wujud ibarat orang yang sedang bertapa.
Peninggalan Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri mempunyai beberapa peninggalan sejarah ibarat prasasti dan kitab-kitab. Untuk peninggalan prasasti akan dijelaskan pada belahan di bawahnya. Sedangkan untuk peninggalan-peninggalan kitabnya seperti:
- Kitab Baharatayuda yang dikarang oleh Empu Panuluh dan Empu Sedah.
- Kitab Wertasancaya ini berisi ihwal cara menciptakan syair yang baik dan benar yang dikarang oleh Empu Tan Akung.
- Kitab Smaradhahana, berisi ihwal kebanggaan raja yang merupakan titisan tuhan serta ibu kota kerajaan Kediri yaitu Dahana. Kitab ini merupakan gubahan dari Empu Dharmaja.
- Kitab Kresnaya, yang dikarang oleh Empu Triguna menceritakan riwayat Krisna anak bandel namun suka menolong dan sakti sehingga dicintai masyarakatnya.
- Kitab Samanasantaka yang dikarang oleh Empu Monaguna.
- Kitab Hariwangsa dan Gatotkacasraya merupakan karangan Empu Panuluh.
- Kitab Lubdaka yang dikarang oleh Empu Tan Akung, kitab ini berisi ihwal kisah Lubdaka.
Prasasti Kerajaan Kediri

Prasasti merupakan peninggalan sejarah yang berupa piagam atau dokumen yang biasanya ditulis pada benda yang keras dan tahan lama. Benda itu ibarat batu, dinding, keramik dan lain-lain. Prasasti merupakan salah satu benda peninggalan sejarah yang sangat penting.
Dengan adanya prasasti sanggup memperlihatkan sejarah kuno tempo dulu. Terdapat beberapa prasasti peninggalan kerajaan Kediri yaitu sebagai berikut:
- Prasasti turun hyang prasasti malenga (974 Saka atau 1052 Masehi)
- Prasasti Banjaran (974 Saka atau 1052 Masehi)Prasasti ini menjelaskan mengenai kemenangan yang diperoleh Panjalu atas Jenggal
- Prasasti Padlegan (1039 Saka atau 1116 Masehi)
- Prasasti Hantang (tahun 1135 ) Keberadaan Prasasti Hantang sebagai piagam akreditasi sebab masyarakat desa Ngantang setia pada Kadiri selama terjadi peperangan. Selain itu terdapat juga kisah Jayabhaya yang telah sukses dalam mempersatukan wilayah Jenggala dan Kadiri dengan mengalahkan Jenggala.
- Prasasti Jaring (1103 Saka atau 1181 Masehi)
- Prasasti Lawudan (1127 Saka atau 1205 Masehi)
Demikianlah sejarah kerajaan Kediri yang perlu Anda ketahui, dengan membaca sejarah ini semoga sanggup menjadi pelajaran berharga bagi Anda. Seperti pada kisah perebutan kekuasaan, kepemimpinan yang sewenang-wenang. Anda sanggup berguru bahwa dengan perilaku yang jelek akan menimbulkan suatu kehancuran.
Namun dengan perilaku baik dan penuh kebijaksanaan serta keadilan yang diterapkan akan menimbulkan kemakmuran suatu bangsa. Oleh sebab itu berguru sejarah merupakan hal penting yang perlu Anda lakukan. Dengan berguru sejarah hidup Anda akan lebih terarah dengan tujuan yang jelas.
Itulah yang sanggup kami jelaskan mengenai Sejarah Kerajaan Kediri mudah-mudahan sanggup bermanfaat sanggup untuk anda pelajar. Jangan lupa dengan sejarah, sebab dengan mengingat sejarah kita lebih sanggup bersyukur untuk menikmati kehidupan kini ini. Kami ucapkan terimakasih banyak untuk kunjungannya.
Komentar
Posting Komentar